Jumat, 02 Desember 2022

Jelang Akhir Tahun, Seniman Surabaya dan Malang Gelar Pameran Lukisan di Hotel Grand Mercure Malang



Jelang akhir tahun sekaligus menyabut datangnya Natal dan Tahun Baru 2023, puluhan seniman Surabaya dan Malang menggelar pameran bersama di lobby Hotel Grand Mercure Malang, 1 - 31 Desember 2022.

Pameran bertajuk "Art Tegar dan Tangguh" memamerkan 40 lukisan ini dibuka langsung oleh Kepala Disporapar Kota Malang, Baihaqi, S.Pd., M.Si dengan memukul gong. 

Selanjutnya, para pelukis Malang memberikan cinderamata berupa lukisan kepada Kepala Disporapar Kota Malang Baihaqi, Kapolresta Malang, Dandim Kota Malang, perwakilan Hotel Grand Mercure Malang, Rasmono Sudarjo dengan disaksikan tamu undangan pecinta seni rupa.

Baihaqi mewakili Wali Kota Malang mengucapkan terima kasih atas diselenggarakannya pameran selama satu bulan. "Terima kasih kepada para seniman dan managemen Hotel Grand Mercure Malang yang telah memberi fasilitas," ucapnya.




"Kegiatan ini bentuk kolaborasi kerjasama potensi yang dimiliki di Kota Malang. Momentum pameran sangat tepat di akhir tahun, karena banyak tamu yang berkunjung ke Malang khususnya di Hotel Grand Mercure bisa melihat karya lukis ini," kata Baihaqi dalam sambutannya.

Seni rupa bagian dari ekonomi kreatif dengan komunitas yang sudah go internasional, ujar Baihaqi, Pemkot Malang memberikan dukungan pelaku ekonomi kreatif guna mewujudkan Malang sebagai kota produktif dan berdaya saing.

"Semoga pameran ini sukses dan dapat membangkitkan ekonomi di Kota Malang," harap Baihaqi yang meminta kegiatan pameran terus berlanjut.

Baihaqi melaporkan bahwa pemerintah kota telah membangun gedung Malang Creative Center yang bisa dimanfaatkan para seniman untuk berkegiatan dengan komunitas lainnya.

Ketua Panitia Bambang mengatakan pameran lukisan yang diselenggarakan terbilang masih sederhana bekerja sama dengan Hotel Grand Mercure Malang yang dilobi oleh Rasmono Sudarjo. 

Bambang berharap Pemkot Malang melibatkan seniman Malang yang berjumlah lebih dari seratus orang dalam setiap acara yang diselenggarakan. 

"Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dengan terselenggaranya pameran ini," ujarnya.

Rasmono Sudarjo, SH. Ketua Surabaya Art Society selaku pemrakarsa acara yang dikoordinir bersama Toni Johan seniman Malang, mengatakan, pameran lukisan yang digelar sebagai sarana masyarakat untuk melihat perkembangan seni lukis saat ini.

"Rencana pameran sebetulnya berlangsung selama 6 bulan. Setiap bulannya karya lukisan akan diganti yang baru. Saya juga akan mengajak pelukis Surabaya pameran di Malang. Demikian sebaliknya, pelukis Malang dapat berpameran di Surabaya. Jadi para seniman ini bisa saling tukar informasi, ilmu dan pengalaman," terang Rasmono Sudarjo seniman kawakan Surabaya yang berprofesi sebagai notaris.




Sementara itu, Sutanto Harsono Ketua Yayasan Sosial Hakka Malang yang juga seniman mengaku membawa 1 buah lukisan Chinese Painting berukuran 2,5 x 1,3 meter yang diselesaikan dalam waktu 6 jam. 

"Kesulitan dari Chinese Painting ini tidak boleh disket. Harus dilukis secara langsung, karena bahannya cat air dengan media kertas khusus," ujar Sutanto yang berharap pameran kali ini untuk memperdalam budaya.

Sutanto mengungkapkan sejak kecil hobi melukis secara otodidak. Kemudian tahun 2003 - 2007 bergabung dengan club seniman di Tiongkok.

Yahya Jufri yang juga membawa 1 karya lukisan untuk dipamerkan ini mengungkapkan baru 5 tahun aktif melukis. Beberapa lukisan karya Yahya Jufri dikoleksi kolektor di Amerika Serikat. 

"Saya suka melukis obyek tunggal seperti buah, kuda, porselin, wajah, pemandangan dan sebagainya," terang Yahya Jufri yang rutin mengirim 4 sampai 5 lukisan ke galeri di Kota New York.

Yahya pun berharap dari pameran yang diadakan saat ini dapat memberi semangat para seniman untuk terus berkarya, serta meningkatkan kualitas, dan mengenalkan karyanya ke mancanegara. 

Yahya memiliki channel YouTube yang mempertontonkan tutorial karyanya dan bagaimana mendapatkan customer di luar negeri.

Rizky Alison salah satu peserta pameran mengungkapkan profesi pelukis saat ini sangat menjanjikan dengan memanfaatkan media sosial untuk penjualan. 





"Pelukis sekarang harus memahami marketing, branding dan skill editing video foto. Orang luar negeri antusias sekali meihat proses melukis yang saya unggah di media sosial," ujar Rizky yang memanfaatkan Facebook, Tik Tok dan Instagram untuk menjual lukisannya ke luar negeri. 

"Lukisan saya dikoleksi kolektor di Belanda. Saat ini saya tengah menyelesaikan 4 buah lukisan untuk dikirim ke Ohio USA," ujar lelaki kelahiran Surabaya dan menetap di Malang.

Irwan Purnomo yang menyerahkan kenang kenangan karya lukisnya kepada Rasmono Sudarjo. Lukisan cat minyak berupa wajah Rasmono Sudarjo yang dilukis sangat indah diselesaikan Irwan selama 3 hari.

"Begitu melihat wajah Pak Rasmono langsung saya lukis dengan teknik impasto," ujarnya. (Impasto adalah teknik lukisan dengan menggunakan cat minyak yang digoreskan secara tebal di atas kanvas).

Irwan Purnomo kelahiran Yogyakarta  suka menggambar sejak SD dan sering mengikuti lomba gambar. Namun ketika ia duduk di bangku SMP sempat berhenti melukis. Ketika SMA mulai menyeket kembali, ujarnya.

"Saya waktu kecil suka mempelajari teknik abstrak," jelas Irwan yang menghasilkan ratusan lukisan realis teknik impres dan dikoleksi kolektor dari Surabaya serta Jakarta.

0 komentar:

Posting Komentar