Lumpia merupakan salah satu kuliner khas Semarang yang berasal dari tradisi kuliner Tionghoa. Makanan ini dikenal dengan kulit tipis dan renyah, berisi rebung, ayam, telur, dan udang, dengan perpaduan rasa manis dan gurih yang khas. Seiring waktu, lumpia berkembang menjadi ikon kuliner Semarang yang digemari berbagai kalangan.
Salah satu lumpia legendaris yang masih mempertahankan resep asli turun-temurun adalah Loenpia Pak Edy yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso No. 20, Semarang Timur. Menggunakan ejaan asli “Loenpia”, tempat ini menawarkan lumpia goreng, lumpia basah, hingga lumpia beku (frozen) yang praktis dijadikan oleh-oleh.
Keunikan Loenpia Pak Edy tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada kemasannya yang masih menggunakan besek bambu. Selain ramah lingkungan, kemasan ini mencerminkan nilai tradisional yang sejalan dengan upaya menjaga warisan kuliner leluhur.
Loenpia Pak Edy tetap setia menggunakan resep keluarga tanpa bahan pengawet dan hanya memakai bahan berkualitas. Komposisi rasa dijaga konsisten seperti lumpia tempo dulu. Dengan harga terjangkau, kualitas dan cita rasa yang ditawarkan sebanding dengan warisan kuliner yang dipertahankan.
Pelanggan Loenpia Pak Edy berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali dan Kalimantan. Hal ini menunjukkan bahwa lumpia tidak lagi sekadar makanan lokal, tetapi telah diterima sebagai kuliner nasional.
Dosen dan Pengamat Pariwisata Universitas Airlangga, Dr. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si, menyebut lumpia sebagai hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang memiliki nilai budaya tinggi.
“Lumpia Semarang berasal dari tradisi kuliner Tionghoa yang kemudian berakulturasi dengan budaya Jawa. Perpaduan rasa manis dan gurih menjadikan lumpia memiliki karakter yang unik dan kuat. Lumpia juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2014,” ujarnya.
Secara historis, Lumpia Semarang berakar dari kuliner Tionghoa pada abad ke-19. Makanan ini diperkenalkan oleh seorang pedagang Tionghoa asal Fujian, Tjoa Thay Joe, yang kemudian memadukan resepnya dengan selera lokal Jawa. Dari proses akulturasi inilah lahir lumpia Semarang yang dikenal hingga kini.
Nama lumpia atau lunpia berasal dari bahasa Hokkian, yakni “lun” yang berarti lembut dan “pia” yang berarti kue, merujuk pada tekstur kulitnya yang tipis. Meski makanan serupa dapat ditemukan di berbagai negara Asia, penggunaan rebung sebagai isian utama serta rasa manis-gurih menjadi ciri khas lumpia Semarang.
Hingga kini, Loenpia Pak Edy terus menjaga tradisi kuliner Tionghoa–Jawa sebagai bagian dari identitas Kota Semarang, membuktikan bahwa kuliner tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang sejarah dan budaya yang diwariskan lintas generasi. (Red)








0 komentar:
Posting Komentar