Selasa, 25 Agustus 2026

Dansa Lintas Usia, dari Ruang Kebersamaan hingga Jalan Menuju Prestasi



SURABAYA – Musik mengalun, langkah kaki bergerak mengikuti irama, dan suasana penuh keceriaan memenuhi Bima Restaurant Surabaya, Jumat malam (21/8/2026). Gathering Starlight Community malam itu bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa dansa dapat dinikmati siapa saja, dari generasi muda hingga mereka yang telah berusia lanjut.


Rangkaian acara diisi dengan singing, dancing, hingga line dance yang atraktif. Para peserta tampak menikmati setiap gerakan, mengikuti irama musik sekaligus berinteraksi satu sama lain dalam suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.


Starlight Community merupakan komunitas dansa dan sosial di Surabaya yang berdiri sejak Desember 2024. Komunitas ini menjadi wadah bagi masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap dansa, line dance, dan bernyanyi. Selain kegiatan rutin, Starlight Community juga menggelar acara dansa setiap bulan serta berbagai kegiatan dalam rangka memperingati hari jadinya.


Pendiri Starlight Community sekaligus pemilik Surabaya International Ballroom Dancesport Academy (SIBDA), Hadi Tjahjono, mengatakan komunitas tersebut hadir untuk memberikan ruang bagi masyarakat Surabaya yang memiliki hobi berdansa.


Namun, menurut Hadi, tujuan tersebut tidak berhenti pada sekadar menyalurkan hobi. Ia ingin dansa menjadi aktivitas positif yang dapat ditekuni secara serius, terutama oleh generasi muda, hingga membuka peluang untuk meraih prestasi.



“Dansa bukan hanya untuk hiburan. Kami ingin masyarakat, khususnya anak-anak muda, semakin gemar berdansa dan tidak menutup kemungkinan bisa meraih prestasi,” ujar Hadi.


Gathering kali ini terasa semakin istimewa dengan kehadiran pasangan muda Sebastian Maximillian Tjahjono dan Rachel Lee Soon Qing. Keduanya baru sekitar enam bulan menjadi partner dansa, tetapi telah menunjukkan kemampuan yang membanggakan di tingkat dunia.


Sebastian Maximillian Tjahjono, yang akrab disapa Max, merupakan putra Hadi Tjahjono dan kini berusia 18 tahun. Sementara Rachel Lee Soon Qing merupakan remaja asal Malaysia yang baru berusia 14 tahun.


Meski terbilang singkat sebagai pasangan dansa, keduanya mampu meraih runner-up pada kategori Amateur Asia Pacific dan peringkat keenam pada kategori Amateur Open dalam cabang olahraga DanceSport.


“Kehadiran Max dan Rachel ini sangat menarik. Kami ingin masyarakat, khususnya anak-anak muda, semakin gemar berdansa dan tidak menutup kemungkinan bisa meraih prestasi. Anak-anak muda biasanya lebih menyukai hip hop dan K-pop,” kata Hadi.


Bagi Hadi, dansa memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar hiburan. Aktivitas tersebut melatih kedisiplinan, koordinasi tubuh, konsentrasi, sekaligus memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan kemampuan dan mengejar prestasi.


Semangat serupa juga dirasakan Puspitadewi Prijadi, salah satu anggota Starlight Community dan SIBDA. Presiden Direktur PT Matahari Sakti itu mengaku telah bergabung di SIBDA sekitar empat tahun lalu dan menikmati proses belajar serta mengembangkan kemampuan berdansa bersama Hadi Tjahjono.


Menurut Puspitadewi, berdansa memberikan manfaat bagi tubuh sekaligus menjaga otak tetap aktif. Setiap gerakan membutuhkan konsentrasi, koordinasi, serta kemampuan mengingat langkah dan koreografi.


“Berdansa itu membuat kita lebih enjoy dan banyak manfaatnya untuk kesehatan. Kita juga harus menghafalkan step dan koreografi, sehingga otak terus bekerja. Dansa memiliki banyak teknik. Kalau kita tidak menguasai teknik dengan baik, tentu kita tidak bisa berdansa dengan indah dan harmonis,” ungkapnya.


Malam itu, Hadi tidak hanya berbicara mengenai manfaat dansa. Ia juga mengajak seluruh hadirin turun langsung mempraktikkan gerakan dasar dengan iringan musik yang ritmis dan sederhana.


Peserta diajak berdiri tegak dan rileks sambil mengikuti irama. Gerakan kemudian dilanjutkan dengan menggeser kaki kanan ke samping, merapatkan kaki kiri sambil memindahkan berat badan, kemudian melakukan gerakan serupa ke arah sebaliknya.


Hadi juga memperagakan gerakan dasar maju dan mundur. Kaki kanan dilangkahkan sedikit ke depan sambil memindahkan berat badan, kemudian kembali ke posisi semula. Setelah itu, kaki kanan digerakkan sedikit ke belakang sebelum kembali berdiri normal. Gerakan dilakukan berulang dengan menyesuaikan ketukan musik.


Suasana pun semakin hidup. Peserta dari berbagai kelompok usia mengikuti instruksi dengan penuh perhatian. Tidak ada sekat antara yang muda dan yang lebih senior. Semua bergerak dalam irama yang sama, menikmati musik dan suasana kebersamaan.


Menurut Hadi, usia bukan alasan untuk menunda belajar dansa. Ia bahkan memiliki murid berusia lebih dari 40 tahun. Beberapa di antaranya telah mencapai usia sekitar 75 tahun, tetapi tetap aktif, sehat, dan energik saat berdansa.


“Jadi, tidak ada kata terlambat untuk belajar dansa. Yang penting mau bergerak, menikmati musik, dan terus belajar,” tuturnya.


Pesan tersebut terasa nyata dalam gathering malam itu. Dansa tidak hanya mempertemukan orang-orang dengan minat yang sama, tetapi juga menciptakan ruang interaksi antargenerasi.


Sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang telah diraih, Hadi kemudian memberikan hadiah angpao kepada Max dan Rachel. Acara dilanjutkan dengan pembagian door prize kepada sejumlah peserta yang beruntung.


Gathering Starlight Community akhirnya menjadi lebih dari sekadar malam penuh musik dan gerakan. Dari anak muda yang mengejar prestasi hingga mereka yang berdansa untuk menjaga tubuh tetap aktif, semuanya menunjukkan satu hal: tidak pernah ada kata terlambat untuk bergerak, belajar, dan menemukan kebahagiaan melalui dansa.


Di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, dansa hadir sebagai ruang untuk menjaga kebugaran, melatih konsentrasi, membangun persahabatan, sekaligus membuka jalan bagi generasi muda untuk berprestasi lebih tinggi.