Semangat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 terasa berbeda bagi Ikatan Alumni SMPN 12 Surabaya (IKARHOLAZ). Minggu pagi (16/8/2026), para alumni menggelar IKARHOLAZ Bike bertema “Gowes Pitulasan” dengan menyusuri sejumlah kawasan yang menyimpan catatan sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo.
Sebanyak 75 peserta mengayuh sepeda bersama melewati sejumlah ruas jalan, mulai Jalan Raya Darmo, Jalan Urip Sumoharjo, Embong Malang, Jalan Bubutan, Jalan Pahlawan, Jalan Indrapura, Jalan Krembangan, hingga Jembatan Merah. Rombongan juga sempat berhenti di kawasan Kya-Kya sebelum melanjutkan perjalanan menuju makam Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Rute yang dilalui bukan sekadar jalur bersepeda. Di sepanjang perjalanan, peserta kembali mengenang berbagai kisah perjuangan yang mewarnai sejarah Kota Pahlawan. Jalan Bubutan, misalnya, memiliki kaitan dengan perjuangan dr. Soetomo. Sementara Jalan Pahlawan menjadi salah satu kawasan penting dalam sejarah Pertempuran 10 November 1945 yang berlanjut hingga kawasan Indrapura dan Jembatan Merah.
Kawasan Kya-Kya juga menyimpan sejarah tersendiri. Sejak dahulu, kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan masyarakat Tionghoa di Surabaya. Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, warga Tionghoa Surabaya juga turut mengambil bagian dan berjuang bersama para pemuda Surabaya.
Ketua IKARHOLAZ Bike, Fredy Djoni, mengatakan Gowes Pitulasan sengaja digelar bukan sekadar untuk berolahraga, tetapi juga menjadi sarana mengenang jasa para pahlawan.
“Gowes ini kami lakukan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk bangsa dan negara. Kami ingin semangat perjuangan itu tetap hidup dan dikenang oleh generasi sekarang,” ujarnya.
Sekretaris IKARHOLAZ Bike, Eddin, menambahkan kegiatan tersebut diikuti 75 peserta. Menurutnya, selain mempererat silaturahmi antarsesama alumni, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mengenal kembali jejak sejarah perjuangan di Surabaya.
Setibanya di makam WR Soepratman, seluruh peserta mengikuti upacara bendera dan doa bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada sang komponis yang telah memberikan sumbangsih besar bagi perjuangan dan identitas bangsa melalui lagu Indonesia Raya.
Ketua Panitia, Mike Widyarachmi, berharap peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dapat menjadi momentum untuk terus menjaga semangat kebersamaan dan persatuan.
“Semoga Indonesia di usia 81 tahun semakin jaya, adil, dan makmur,” harapnya.
Usai rangkaian penghormatan di makam WR Soepratman, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Taman Bungkul. Di sana, para peserta menikmati acara santai dan bergembira bersama sebagai penutup rangkaian kegiatan.
Bagi IKARHOLAZ, memperingati kemerdekaan tidak harus selalu dilakukan melalui seremoni besar. Mengayuh sepeda, menyusuri jejak sejarah, mengenang jasa pahlawan, sekaligus mempererat kebersamaan menjadi cara sederhana yang sarat makna.
Komunitas IKARHOLAZ juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Selain menjadi wadah silaturahmi para alumni, komunitas ini rutin menggelar bakti sosial dan kegiatan kemasyarakatan. Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya mereka untuk menjaga nilai-nilai perjuangan, kebersamaan, dan kepedulian sosial tetap hidup di tengah masyarakat.
Mengenang WR Soepratman
Wage Rudolf Soepratman, atau W.R. Supratman, merupakan pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya sekaligus pahlawan nasional Indonesia. Karena karya dan perjuangannya, ia sempat menjadi buronan pemerintah Hindia Belanda dan ditahan setelah memperdengarkan lagu Matahari Terbit.
Soepratman meninggal di Surabaya pada 17 Agustus 1938, tepat 23 tahun sebelum Indonesia memperingati HUT kemerdekaan ke-16. Ia dimakamkan di TPU Kapas, kawasan Tambaksari, sebelum makamnya dipindahkan ke kawasan Tambak Segaran Wetan, Tambaksari, Surabaya, pada 31 Maret 1956. (Red)














