Festival Bulan Purnama yang digelar Sanggar Agung Surabaya pada 25–27 September 2026 bukan sekadar menghadirkan hiburan bernuansa budaya Tionghoa. Di balik kemeriahan festival, tersimpan pesan tentang kebersamaan keluarga, rasa syukur, interaksi sosial, hingga pentingnya membangun pemahaman lintas budaya di tengah masyarakat.
Dosen Kepariwisataan/Bina Wisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si., mengapresiasi penyelenggaraan Festival Bulan Purnama tersebut. Menurutnya, perayaan ini memiliki nilai budaya dan sosial yang kuat karena mengajarkan hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, serta Tuhan.
“Festival ini penting karena menjadi ruang untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Ada nilai kebersamaan, rasa syukur, sekaligus interaksi sosial yang dapat dikenalkan kepada masyarakat luas,” ujar Sri Endah.
Ia menjelaskan, salah satu tradisi yang lekat dengan Festival Bulan Purnama adalah berbagi kue bulan. Bentuknya yang bulat menjadi simbol keutuhan dan kebersamaan keluarga. Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antaranggota keluarga dan komunitas.
Menurut Sri Endah, perayaan seperti ini juga memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Pengenalan budaya Tionghoa kepada masyarakat luas dapat memperkuat pemahaman lintas budaya sehingga setiap kelompok masyarakat dapat saling mengenal dan menghargai tradisi satu sama lain.
“Pemahaman lintas budaya sangat baik dalam kehidupan bermasyarakat karena dapat menjaga keseimbangan hubungan antaretnis dan mencegah munculnya konflik yang bersumber dari perbedaan budaya maupun latar belakang,” jelasnya.
Selain memiliki nilai sosial dan budaya, Festival Bulan Purnama juga dapat memberikan dampak ekonomi. Kehadiran bazaar kuliner dan berbagai aktivitas masyarakat membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan makanan serta produk yang berkaitan dengan budaya Tionghoa.
Festival Bulan Purnama sendiri memiliki makna utama sebagai simbol keutuhan, keharmonisan keluarga, dan rasa syukur. Perayaan yang dikenal pula sebagai Festival Kue Bulan atau Mid-Autumn Festival ini berakar dari tradisi masyarakat yang merayakan berakhirnya musim panen. Bulan purnama yang bulat sempurna kemudian dimaknai sebagai lambang persatuan dan reuni keluarga.
Di Sanggar Agung, nilai tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang mengajak masyarakat berkumpul dan berinteraksi. Festival menghadirkan Pasar Purnama berupa bazaar kuliner, Pohon Harapan untuk menggantungkan pita doa, Lentera Apung di tepi laut, serta permainan Mahjong.
Suasana festival juga dimeriahkan pertunjukan barongsai. Pada Jumat digelar Pelepasan Balon Harapan, Sabtu menghadirkan kegiatan Single Out, sedangkan Minggu diisi Zumba Party, Inside Flow Yoga, dan Live Karaoke.
Pengunjung juga diajak mengenakan pakaian bergaya Mandarin selama festival. Perpaduan antara tradisi, hiburan, kuliner, aktivitas komunitas, dan suasana tepi laut membuat Festival Bulan Purnama menjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan.
Bagi Sri Endah, perayaan semacam ini bukan hanya tentang mempertahankan sebuah tradisi, tetapi juga bagaimana budaya dapat menjadi jembatan untuk memperkuat hubungan antarmanusia.
Cahaya bulan purnama yang menjadi simbol perayaan pun seolah membawa pesan sederhana: perbedaan budaya tidak harus menjadi jarak. Sebaliknya, ketika dipahami dan dirayakan bersama, keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.














