Minggu, 14 Februari 2021

Sambut Imlek, Dewa Uang Keliling Kampung & Sajian Kuliner Legendaris Tionghoa di Pecinan Kapasan Dalam



Tidak ada perayaan meriah pada Imlek 2021 kali ini, seperti halnya di Kampung Pecinan Kapasan Dalam Surabaya. Tidak ada suara petasan maupun atraksi barongsai. Warga di Kapasan Dalam berada di rumah masing-masing, karena pandemi.

Namun ada hal unik yang dilakukan warga disana. Yakni Dewa Uang Keliling Kampung Kapasan Dalam, sementara warga lainnya menjual makanan legendaris Tionghoa untuk wisatawan kota yang berkunjung.

Awi Soenogo yang dikenal sebutan Awi MC mengatakan sepinya suasana Imlek karena warga Kapasan Dalam mengikuti anjuran pemerintah merayakan Tahun Baru Imlek 2572 dengan sederhana saja.




Awi pun menggagas kegiatan Dewa Uang berkeliling Kapasan Dalam berbagi angpou. Tak hanya anak anak yang menerima, orang tua juga mendapatkan angpou. 

"Sebetulnya setiap tahun mengadakan acara seperti ini, tapi karena pandemi Covid-19 dan menghindari kerumunan. Acara ini digagas agar tidak melupakan tradisi Imlek," tambahnya.

Awi berharap dengan adanya Dewa Uang yang berkeliling selain mengingatkan tradisi Imlek juga berbagi. "Semoga Indonesia segera bebas dari Covid-19 dan segala bencana alam. Indonesia bisa makmur kembali," harapnya.



Kampung Pecinan Kapasan Dalam terletak di belakang Kelenteng Boen Bio, yang mengukir banyak sejarah masa lalu warga Tionghoa di Surabaya. Kampung ini sering dianggap miniatur keberagaman, karena disini tinggal etnis Tionghoa, Jawa, Madura  hidup rukun berdampingan.

Kuliner Legendaris Tionghoa Dipopulerkan Warga Kampung Pecinan Kapasan Dalam Surabaya

Berada di Kampung Pecinan Kapasan Dalam membuat kesan tersendiri bagi pengunjungnya. Suasana keguyuban warganya, tradisi leluhur yang dijalankan, hingga ornamen khas budaya Tionghoa menambah semarak Kampung Pecinan Kapasan Dalam.



Michael salah satu warga, mengungkapkan kampung Kapasan Dalam dihuni mayoritas etnis Tionghoa. Di kampung tersebut masih bisa menemui kuliner khas Tionghoa.

Sebagai jujugan wisata, warga kampung Kapasan Dalam sengaja menonjolkan makanan legenderis seperti mie Damian, ayam Kanton, mie, sate babi non halal, pangsit dan sebagainya untuk pengunjung yang datang.

Bahkan ada beberapa depot yang buka menjual makanan seperti Nasi Campur Nyabang Kapasan Dalam 1/2, Nasi Campur Nyaa Bang Boklan, Dapur Cik De  Jl. Kapasan Dalam Gang III, Warung Ibu Asrep dan sebagainya.



Ketua RW 08, Jaya Sutianto berharap Kapasan Dalam yang merupakan kampung pecinan tertua di Surabaya dan kini menjadi jujugan wisata, warganya bisa berjualan di depan rumah masing masing setiap hari.

"Tapi saat ini masih pandemi. Hanya pada hari Minggu, dikunjungi komunitas pesepeda," ujarnya.

Herly seorang seniman mengatakan Kampung Kapasan Dalam sengaja membangkitkan estetika budaya atau tradisi Tionghoa di masa lalu.



"Tujuan utama mengangkat budaya tradisi dan berkesenian masyarakat Tionghoa jaman dulu. Jangan sampai hanya dimakan waktu, sehingga tidak nampak lagi budaya di masa lalu. Karena budaya Tionghoa memliki filosofi yang menjadi bagian dari kehidupan di NKRI," jelasnya. Dilansir dari @banggasurabaya



0 komentar:

Posting Komentar