Selasa, 29 September 2020

Jangan Jauh Berwisata Kuliner Edukatif Ayo ke Pabrik Tahu & Cao Dinoyo Tertua di Surabaya

Dibalik kampung Dinoyo yang berada di sepanjang Sungai Kalimas Surabaya, terdapat pabrik tahu dibangun tahun 1952 oleh Go Loe Tjiauw. Tepatnya di Jalan Dinoyo 81-83 Surabaya. Pabrik tersebut tak hanya memproduksi tahu, tapi juga cincau hitam atau cao dan mutiara untuk campuran es.

Yang menarik, Go Loe Tjiauw membangun pabrik tahu dilengkapi rumah untuk para pekerjanya yang berjumlah 20 kala itu. Sepeninggalnya pabrik dikelola putranya Go Sin Hwa. Setelah Go Sin Hwa meninggal pada 2014, maka pabrik tahu dikelola Riani istrinya, hingga kini bertahan berproduksi walau diterjang badai pandemi Covid19.



Letak pabrik tahu yang menjorok kedalam, membuatnya tidak terlihat dari jalan raya Dinoyo. Berjalan kaki sedikit menuju pabrik tahu. Dan tidak usah khawatir tersesat atau kesulitan mencari lokasinya, karena hampir semua orang yang tinggal di daerah sana akan memberitahu keberadaanya.

Pabrik tahu yang terlihat tua dengan peralatan sederhana berdiri di atas lahan yang cukup lapang. Saat tiba di pintu masuk, pada samping kiri terlihat aktivitas pabrik tahu, dan samping kanan rumah induk pemilik. Lurus ke belakang berderet rumah karyawan. Susunan bangunan dipertahankan hingga saat ini.

Riani menceritakan sejak pabrik didirikan mertuanya, Go Loe Tjiauw, memiliki karyawan yang sangat setia hingga kini. Mereka tinggal di lingkungan pabrik, mulai menikah hingga memiliki anak. Kini anak-anak mereka pun meneruskan bekerja di pabrik tahu.

Riani lantas memanggil Budiono salah satu karyawan yang lahir di lingkungan pabrik tahu, karena kedua orangtuanya dulu pegawai tetap hingga meninggal. Budiono kelahiran tahun 1969, menikah tahun 1990, kini memiliki 5 anak, dan tinggal di lingkungan pabrik. Supardi kelahiran 1971 juga masih tinggal di pabrik dan bekerja setiap hari.

Riani mengatakan para karyawan adalah keluarganya, karena mereka setia turun temurun bekerja pada awal pabrik tahu berdiri. "Saya berharap pabrik tahu dan cao ini tetap menjadi usaha keluarga, turun temurun dipertahankan. Tak hanya pemilik yang mengelola tapi juga para karyawan yang sudah seperti saudara sendiri dan menjadi keluarga besar," ujar Riani yang populer dengan julukan Mami Tahu.

Pandemi Covid-19 sempat membuat omzet tahu menurun drastis, namun Riani mengaku bertekad produksi tahu harus berjalan guna memenuhi permintaan pasar. Selain menghidupi 8 karyawannya. Riani pun berharap uluran tangan pemerintah agar pabrik tahunya tetap eksis.

Riani menceritakan awal pabrik beroperasi dengan mesin lama yang sampai sekarang dipertahankan, karena masih berfungsi dengan baik. "Tahu yang diproduksi diambil para pedagang yang datang kemari. Sebagian lagi dijual dengan diangkut dengan cikar atau kereta yang ditarik lembu," cerita Riani.

Pembuatan tahu dimulai pukul 8 pagi hingga jam 11 siang, kadang sampai sore hari bila ramai penjualan. Para pedagang yang datang mengambil turut menentukan potongan tahu dan harga jual di pasaran. Permintaan pembeli dilayani, seperti jika tahu harus padat maka memakan waktu untuk pemrosesannya.

Dalam sehari memproduksi tahu sebanyak 64 papan. Sedangkan cao sebanyak 100 blek tapi tidak setiap hari. Penjualan memenuhi kebutuhan pasar di sekitar Surabaya dan cao dikirim hingga ke Pasuruan. Riani pun berharap masyarakat Surabaya gemar makan tahu karena menyehatkan.

Minggu pagi 27 September 2020, rombongan Forum Gibah Badhogan peduli UMKM yang anggotanya terdiri dari beragam profesi sengaja mengunjungi pabrik tahu tertua. 

Dhahana Adi Pungkas penulis Buku Surabaya Punya Cerita mengatakan keberadaan pabrik tahu tertua di Surabaya ini bisa menjadi alternatif wisata kuliner edukatif.

"Surabaya itu punya sejuta cerita, tapi yang populer hanya cerita sejarah perjuangan saja. Sedangkan di balik kampung Dinoyo ada pabrik tahu yang tidak terekspose," jelas Ipung panggilan akrabnya. 

Penulis Surabaya Punya Cerita mengungkapkan sekarang berkolaborasi dengan Surabaya Live untuk mendokumentasikan beragam tempat menarik di Surabaya.  

Kunjungan ke pabrik tahu tertua juga diikuti Surabaya Suites Hotel untuk membuat paket wisata alternatif seperti jelajah kampung yang tidak terpublikasikan sekaligus membantu UMKM memberdayakan ekonomi masyarakat, imbuh Ipung. Dengan video dan pemberitaan maka masyarakat akan penasaran dan datang berkunjung salah satunya ke pabrik tahu Dinoyo.

Firman S. Permana General Manager Surabaya Suite Hotel mengatakan kondisi perusahaan tahu yang belum modern, harus ada sedikit kerja keras untuk mendatangkan wisatawan kemari. Namun ia melihat sisi bagaimana melestarikan konten yang ada, seperti keberadaan boiler lama. 

Pabrik tahu dan cao di Dinoyo ini berpotensi menjadi wisata alternatif baru yang kemasannya harus diperbaiki ujar Firman dan mengacungi jempol Mami Tahu mempertahankan pabriknya serta memiliki kepedulian tinggi terhadap orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar